Thursday, September 17, 2015

Dear GOD... Please, Send Down The Rain For Indonesia


“Prayer is not asking. It is a longing of the soul. It is daily admission of one's weakness. 
It is better in prayer to have a heart without words than words without a heart.” 

- Mahatma Gandhi -

Aku sama sekali tidak menyangka kalau kejadian kebakaran hutan ini ternyata begitu hebatnya berdampak pada kehidupan manusia di berbagai wilayah di Indonesia bahkan sampai keluar negeri. Aku yang tinggal di Jakarta tidak merasakan dampak apapun, asap mungkin terlalu jauh untuk bisa sampai ke Jakarta.

Maksudku, aku tau betapa aktifitas mereka terganggu, tapi aku tidak menyangka bahwa kejadian ini sudah darurat dan kondisi udara sudah BERBAHAYA. Barulah aku mencari tahu ketika pada 14 September 2015 malam lalu abang bilang kalau beliau dengan tiba - tiba harus segera persiapan berangkat bertugas untuk pemadaman kebakaran hutan (antara Riau atau Kalimantan). “Ini darurat. Kondisi disana sudah berbahaya, katanya.




Ilustrasi, diambil dari kejadian kebakaran hutan di Mempura, Kabupaten Siak, Riau.

Pada tahun 2014 lalu.
Sumber : foto.metrotvnews.com 
(kemudian di edit kembali oleh penulis).

Sebahaya itukah ??? Sampai ratusan orang yang dikirim dari Batalyon dan ribuan pasukan lainnya yang sudah terlebih dulu berangkat masih kurang ??? IYA, SEBAHAYA ITU!!! Spontan aku seperti ditampar, helloooooooo kemana aje mba ??? Apa kabar nontonin berita di TV hampir tiap hari trus merasa hal itu biasa - biasa saja (karena beberapa waktu yang lalu Riau mengalami hal serupa, memang keluarga disana sempat bercerita tentang bagaimana asap itu mengganggu aktifitas mereka, tapi memang tidak separah saat ini. Pemikiranku benar - benar ngga sampai kesitu).

Akhirnya aku cari tau dari berita - berita yang ada di internet, dan bertanya sama beberapa keluarga yang tinggal di Riau dan sekitarnya. Kakak sepupuku juga memasang foto di profil BBMnya, bisa dilihat betapa tebalnya asap di Duri, Riau (sayangnya fotonya ngga bisa dilampirkan huhuhuu), aktifitas mereka sangat terganggu dan mereka hanya menetap di dalam rumah.

Maluuuu rasanya jadi sesama manusia tapi kok ngga perduli, ngga berbuat apa - apa juga. Anak - anak yang sudah dua minggu diliburkan dari sekolah, mahasiswa/i tidak kuliah (aku sempat dengar di berita kalau mereka baru mulai masuk kuliah kemarin tapi diwajibkan memakai masker), atau masyarakat yang terganggu aktifitasnya karena sakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), atau karena penerbangan yang dihentikan, dll.


Kondisi langit di kota Dumai, Riau. Sabtu, 12 September 2015.

Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks to Eben Simarmata.


So, apa yang bisa kita lakukan untuk mereka ??? Pergi ke Sumatera atau Kalimantan ??? Tidak akan mungkin bisa, yang berani (dan yang diperbolehkan) untuk terbang hanyalah pesawat TNI yang bertugas untuk membantu pemadaman.

Kemudian abang telepon lagi dan bertanya “Aku mau beli perlengkapan, apa yang kira - kira aku harus bawa lagi ya?”, tanyanya. Aku berfikir masker yang bagus, lalu susu, ya susu. “Jangan lupa beli susu Bear Brand, bang”. Setau aku susu ini baik untuk paru - paru, yaaa entah dari mana aku tahu tapi coba deh kalau di google pasti banyak penjelasan tentang hal tersebut. Dannnn tidak lupa aku minta dikirimkan foto - foto tentang kondisi disana, aku mau nulis tentang itu (andaikan bisa ikut, asiknyaaa bisa meliput langsung tapi macam betul aja, jalan 4 km aja kakiku mau putus apalagi naik turun bukit  bzzzz, jangan ngayal Roos..).

Kebayanglah kesulitan yang akan mereka alami nantinya disana, minimal sesak nafas, dan ternyata perihnya mata yang sangat mengganggu. Nah, gimana aku bisa bantu, aku apa sih, mata kena AC langsung agak lama aja sudah kedip - kedip ngga nyaman.

Medan yang sulit, kekurangan sumber daya air karena kemarau berkepanjangan, kekeringan, menyebabkan kebakaran makin parah. Tenaga para prajurit TNI dan kepolisian pun dibutuhkan. Sudah ribuan pasukan Angkatan Darat, Laut, Udara, Brimob, dll dikerahkan untuk membantu pemadaman api. 


Para prajurit TNI yang besiap memasuki pesawat Hercules untuk diberangkatkan ke Riau,
Lanud Halim Perdana Kusuma, Selasa 15 September 2015.
Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks Mo.


Dan pesawat terakhir yang terbang ke Riau adalah pesawat yang ditumpangi oleh abang dan ribuan anggota TNI lainnya. Sebelum beliau berangkat, aku minta dikirimkan foto tentang bagaimana keadaan disana, persiapan sebelum mereka berangkat, dll.



Pesawat Hercules yang membawa prajurit TNI ke Riau,
Lanud Halim Perdana Kusuma, Selasa 15 September 2015.
Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks Mo.

Penasaran dengan apa yang mereka akan lakukan untuk saling membantu sesama, disini aku tidak bisa berbuat apa - apa, #akuiniapasih boro - boro bisa ambil bagian untuk pemadaman api (ya kali sipil ikut terbang bersamaan dengan urusan darurat militer), atau jadi bagian tim advokat yang ingin bertindak atas berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh puluhan perusahaan yang bertanggung jawab dengan kejadian ini, atau jadi tim pendemo pemerintah.


PT BMH Kabupaten OKI Sumatera Selatan dengan tersangka JLT; PT RPP di Sumatera Selatan dengan tersangka P. Selanjutnya PT RPS di Sumatera Selatan dengan tersangka S; PT LIH di Riau dengan tersangka FK; PT GAP di Sampit Kalteng dengan tersangka S; PT MBA di Kapuas dengan tersangka GRN dan PT ASP di Kalteng dengan tersangka WD.

Sedangkan 20 korporasi yang dilakukan penyelidikan, di antaranya PT WAD, PT KY, PT PSM, PT RHM, PT PH, dan PT GS. Kemudian PT REB, PT MHP, PT PN, PT TJ, PT AAM, PT MHP, PT MHP, PT SAP, PT WMAI, PT TPR, PT SPM, PT GAL, PT SBN, dan PT MSA.

Pasal yang dikenakan untuk pelanggaran ini adalah :
  • UU 39 tahun 2013 tentang perkebunan pasal 108
  • UU Pasal 78 tentang kehutanan
  • UU 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 116. Dengan ancaman penjara maksimal 10 tahun dan denda maksimal Rp 10 miliar.

(Entahlah apa - apa nama perusahaan diatas dan siapa - siapa yang menjadi pimpinannya, dan yang berdiri di belakangnya, aku ngga ngerti. Tapi semoga saja pemerintah kali ini benar - benar menindak tegas para oknum biar kapok, seperti yang pernah disampaikan Presiden Indonesia, kami tunggu realisasi dari janjinya ya pak \(^o^)/

Ngga. Aku ngga bisa buat apa - apa. Cuma bisa bengong, speechless liatin tv atau baca berita, atau mandangin foto - foto asap dan baca cerita tentang sesaknya mereka bernafas karena asap itu. Huhhhhh.. Aku ngga bisa apa - apa!!!



Kondisi di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Rabu, 16 September 2015

Untuk wilayah Indragiri Hulu, jarak pandang sekitar 50 - 100 meter. 
Nafas sesak meskipun sudah memakai masker dan mata pun perih.
Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks Mo.

Beberapa orang kemudian mengirimkan broadcast message untuk membuat hujan lebih cepat turun. Dengan meletakkan ember berisi air yang sudah dicampur dengan garam dibawah terik matahari, ketika air menguap atau evaporasi akibat adanya bantuan dari panas sinar matahari. Air tersebut kemudian menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain.

Sesampai di atas, uap - uap mengalami proses pemadatan atau biasa disebut juga kondensasi sehingga terbentuklah awan. Akibat terbawa angin yang bergerak, awan-awan tersebut saling bertemu dan membesar dan kemudian menuju ke atmosfir bumi yang suhunya lebih rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena terlalu berat dan tidak mampu lagi ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi, proses ini disebut juga proses presipitasi. Karena semakin rendah, mengakibatkan suhu semakin naik maka es/salju akan mencair, namun jika suhunya sangat rendah, maka akan turun tetap menjadi salju.

Satu aku melakukan itu dan dibandingkan dengan besarnya wilayah yang terbakar tentunya ngga akan berdampak apa - apa. Mungkin belum banyak yang melakukan hal itu karena mereka kurang mengerti atau belum tau tentang informasi diatas, jadi belum cukup kondensasi yang terjadi  mengakibatkan belum waktunya hujan datang, atauuu Tuhan punya rencana untuk kita umat manusia ini untuk saling membantu sesama.



Kondisi Desa Sam Sam, Kecamatan Kandis, dan Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak.
Antara 10 September 2015 - 17 September 2015.

Sumber : dari berbagai sumber

Tidak banyak (atau mungkin tidak ada) yang bisa kita lakukan untuk mereka yang disana, tapi selalu ada satu hal yang punya kuasa lebih besar dari segala hal yang mungkin bisa kita lakukan dengan tangan, tenaga, waktu, uang kita.

Yaitu adalah dengan BERDOA. Indonesia dengan berbagai agama dan kepercayaan mari yuk sama - sama kita panjatkan doa agar Tuhan kirimkan hujan untuk Indonesia, khususnya untuk Sumatera dan Kalimantan (juga untuk wilayah - wilayah lainnya di Indonesia yang sudah mulai mengalami kekeringan) agar api tidak menyebar ke wilayah lainnya.

“Prayer may just be the most powerful tool mankind has.”

Ketika menulis ini aku jadi teringat satu foto yang baru aja tadi siang aku lihat, tentang beberapa manusia yang berdiri mengelilingi orang hutan disebuah tanah lapang yang tadinya adalah hutan. Dan yang menyayat hati adalah kata - kata “Mereka sadar mereka sudah tidak bisa berbuat apa - apa, oleh karena itu mereka berpelukan”. Jadi orang hutan itu saling berpelukan satu sama yang lainnya.

Entahlah hal itu benar terjadi atau tidak, tapi pastinya itu yang bisa terjadi ketika para oknum - oknum merambah hutan, menghabisi berbagai macam spesies binatang yang tinggal di dalamnya. Indonesia yang kaya akan flora dan faunanya, dengan hutan yang begitu besar yang juga adalah paru - paru dunia kini kehilangan puluhan (atau mungkin ratusan) hektar hutannya karena keserakahan manusia.


Kondisi di Jl. Riau, Pekanbaru. Kamis, 17 September 2015

Sumber : Dokumen Pribadi, thanks to Eben Simarmata

Tapi, mungkin ini positifnya dari kejadian ini, banyak dari kita yang masih bisa menghirup udara dengan baik (meskipun udara di Jakarta ini pun sudah tercemar akan polusi, dll), dan masih bisa bersekolah, kuliah, kerja, masih bisa mandi, masak, mencuci dengan air yang berlimpah. Baiknya kita bersyukur, bersyukur atas semua berkat dan rahmat yang masih bisa kita rasakan, dan baiknya kita mulai peduli sama lingkungan kita.

Mungkin tidak banyak ada dari kita yang tidak bisa mengirimkan pesawat berisi air beratus galon (mana mungkin), tidak bisa menanam pohon karena tidak punya pekarangan, atau melakukan hal - hal lainnya. Tapi mungkin kita bisa mulai dari hal yang sederhana, misalnya tidak buang sampah sembarangan, daur ulang barang - barang bekas, menghemat penggunaan listrik (ini tentunya susah, mengingat kita butuh banyak listrik untuk laptop, hp, atau gaget lainnya.. ya paling tidak cabut colokan baterai kita ketika selesai digunakan), menggunakan air, sabun cuci tangan, tissue, kertas, dll secukupnya.


Kondisi di Pontianak, Kalimantan Barat (dalam perjalanan ke Samarinda). Kamis, 17 September 2015

Sumber : Dokumen Pribadi, thanks to ito Dolly Pasaribu

Apa hubungannya sampah, listrik, dengan kebakaran hutan...???? Ngga ada sih,, trussss ??? Yang mau aku bagi adalah polanya, pola kehidupannya. Kalau kita terbiasa hidup dengan bersyukur, peduli akan lingkungan, peduli akan sesama, mungkin (iya.. mungkin) satu saat nanti ketika kita ada yang duduk di kursi pemerintahan atau misalnya ada diantara kita yang bisa jadi bagian dari pimpinan perusahaan seperti perusahaan diatas, kita menjadi orang yang tetap peduli dengan lingkungan kita, peduli dengan kepentingan sesama (makin peduli, karena sudah biasa perduli).


Guyonan Si Juki tentang asap, hahahahhaa...

Sumber : www.sijuki.com dan Instagram @jukihoki

Sadarkah kita, kalau bumi yang kita injak sekarang, langit yang menaungi kita, dengan segala isinya adalah tempat yang sama yang akan ditempati oleh anak, cucu, cicit, keturunan - keturunan kita berikutnya. Jadi bagaimana mereka bisa hidup dengan baik kalau bumi yang kita tinggalkan untuk mereka ini mengalami banyak sekali kerusakan ???

Prinsip orang Batak (kenapa harus pake prinsip Batak karena yang aku tau ya prinsip itu huhuhuuhuu) yang selalu dipegang teguh salah satunya adalah, Anakknoki Do Hamoraon Di Ahu. Yang artinya Anakku Adalah Hartaku, meskipun tidak semua juga orang Batak benar - benar memegang teguh prinsip ini (kembali ke kepribadian masing - masing) tapi sangat banyak tentunya orang tua yang berprinsip seperti itu (suku apapun juga), bahwa anak - anak mereka adalah kekayaan mereka (kecuali TNI ya, NKRI Harga Mati, anak istri yang kedua *ciyeee curhat hahahaha). Jadi yuk, kita sama - sama belajar dan saling mengingatkan untuk menjadi orang tua, pemuda/i, yang peduli terhadap lingkungan ini. Yuk, kita wariskan yang baik, yang terbaik untuk keturunan kita kelak, yang akan jadi masa depan bangsa ini.

Sembari edit - edit foto dan ketik - ketik tulisan diatas, aku kembali dikirimkan beberapa foto dibawah ini. Kejadiannya BARU hari ini 17 September 2015, menurut laporan pukul 08.00 WIB telah terjadi kebakaran lagi, kali ini di lahan perkebunan kelapa sawit PT. Runggu, masyarakat, karyawan, dibantu dengan TNI memadamkan api dengan alat pemadaman mesin pompa, 2 steam, dan ditambah alat pemadaman seadanya.



Kondisi perkebunan yang terbakar pagi tadi (Kamis, 17 September 2015) di Indragiri Hulu.
Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks Mo.

Kronologisnya, diperkirakan api merambat dari lahan warga yang sudah terbakar terlebih dahulu. Untuk asal api tidak diketahui, dan api baru bisa dipadamkan pada pukul 13.30 WIB.



Api berhasil dipadamkan pada pukul 14.00 dengan alat pemadaman seadanya.
Indragiri Hulu, Kamis, 17 September 2015.

Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks Mo.


Sampai dengan saat ini (Kamis, 17 September 2015), titik api di wilayah Riau sudah berkurang, tapi asap masih menyelimuti Riau karena wilayah taman nasional di Jambi dan wilayah Palembang masih parah. Beberapa hari yang lalu Pekanbaru hujan, tapi hanya sebentar jadi tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap asap. 



Bapak ini baru saja dibawa ke RS. Antonius siang tadi karena sesak nafas, dan kalau dilihat dari fotonya beliau sedang mendapatkan pemeriksaan jantung (EKG)
Kota Pontianak. Kamis, 17 September 2015.

Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks to Okamura Silitonga

Tapi beberapa wilayah di Kalimantan, seperti Pontianak masih diselimuti asap. Foto - foto tentang Pontianak dan sekitarnya ini diambil sekitar pukul 15.00 WIB hari ini (Kamis, 17 September 2015).

Kondisi asapnya juga masih menyesakkan, membuat banyak karyawan sakit. Foto kiri atas adalah salah satu karyawan di tempat temanku bekerja, beliau baru masuk ST. Antonius, Pontianak karena sesak nafas. Berikut foto dari beberapa tempat di Kabupaten Kuburaya, Pontianak, Kalimantan Barat.



Asap masih cukup pekat di beberapa wilayah, dan nampaknya kondisi di Pontianak sekarang ini lebih membuat sesak dibandingkan di Riau.
Kabupaten Kuburaya, Pontianak, Kalimantan Barat. Kamis 17 September 2015.

Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks to Okamura Silitonga

Asap yang tebal juga menyelimuti daerah sekitaran Sungai Kapuas, sulit untuk melihat keindahan Sungai Kapuas (meski makin kesini pesonanya makin meredup karena terlalu banyak pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang sungai, membuat sungai ini menjadi seperti pasar).



Kondisi di Sungai Kapuas.
Kamis, 17 September 2015

Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks to Okamura Silitonga

Jadi, yukkkk BERDOA, berlutut, bersujud, melipat tangan, menurut agama dan kepercayaan kita masing - masing agar Tuhan turunkan hujan untuk Indonesia (juga negara - negara sekitarnya), agar kebakaran hutan cepat padam, agar saudara - saudara kita di Sumatera dan Kalimantan (juga untuk tetangga kita di Malaysia dan Singapura) bisa kembali beraktifitas dengan normal, kembali sehat. Demikian juga seluruh tim dan masyarakat yang turut untuk membantu, kiranya mereka juga tetap sehat dan semangat, dan bisa kembali ke tengah - tengah keluarga dengan selamat untuk bisa melanjutkan tugas berikutnya. Dan kiranya musim keringan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia ini bisa segera berakhir.

UPDATE
Kebakaran hutannya masih berlangsung, ini beberapa kondisi terakhir yang aku terima dari beberapa lokasi.



Masih memadamkan api
Kabupaten Pelalawan, Jumat, 18 September 2015.

Sumber : dari berbagai sumber

Lalu ada berita baik yang aku dengar dari Indragiri Hulu, ternyata hari itu hujan cukup deras. Tapiiiiiiiii ternyata tidak berdampak besar, karena hujannya hanya sebentar dan tidak menyebar... huhuhuhuhu.


Hujan, tapi hanya sebentar dan tidak menyebar
Indragiri Hulu, Sabtu, 19 September 2015.

Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks Mo
 

Keesokan harinya asap cukup tebal di Indragiri Hulu, dan kalau diperhatikan, kondisinya mirip - mirip dengan film "The Mist" di adegan terakhir, berkabut dan tebal. 


Hujan, tapi hanya sebentar dan tidak menyebar
Indragiri Hulu, Minggu, 20 September 2015.

Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks Mo
 

Para anggota TNI yang bertugas dibagi menjadi beberapa bagian, sebagian ada di lapangan, sebagian lainnya standby di posko untuk mendata segala hal yang terjadi di lapangan. Nonstop buat laporan seharian, tiap jam, menit, dan detik harus memperhatikan dan mengolah semua informasi untuk diolah menjadi data.



Mereka yang melakukan pendataan terhadap kejadian - kejadian di lapangan
Indragiri Hulu, Rabu, 23 September 2015.

Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks Mo
  

Kebakan kembali terjadi, yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah hujan besar dengan durasi yang agak lama agar api benar - benar padam.



Hujan, tapi hanya sebentar dan tidak menyebar
Indragiri Hulu, Rabu, 23 September 2015.

Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks Mo
  

Di lokasi yang sama dengan foto diatas, dengan tanggal yang berbeda


Hujan deras di daerah Duri, Pekanbaru tidak terlalu mempengaruhi Indragiri Hulu
Indragiri Hulu, Rabu, 23 September 2015.

Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks Mo
  


Kemarin malam (Kamis, 24 September 2015), hujan deras mengguyur daerah Duri, Pekanbaru tapi nampaknya hujan masih belum merata, sehingga lokasi lainnya masih berasap. Sebagian tim kemudian dikirmkan ke Indragiri Hilir, dekat dengan perbatasan Jambi untuk persiapan menyambuk Presiden dan rombongan. Keadaan di Indragiri Hilir juga tidak jauh berbeda, masih berasap.


Indragiri Hilir, Jumat, 25 September 2015.

Sumber : Dokumen Pribadi, Thanks Mo
   

“I believe that prayer is our powerful contact with the greatest force in the universe”

Semoga tulisan ini bisa jadi inspirasi dan bermanfaat untuk kita semua. 
Semoga Indonesia cepat "pulih"

GOD, BLESS INDONESIA


TWITTER   |   INSTAGRAM   |   Google+


16 comments:

  1. Doaku ikut mengiringi para petugas yang menanggulangi asap. Doa juga untuk kesadaran para pelakunya semoga cepat taubat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak mba Murti, nanti aku sampaikan sama yang sedang bertugas disana.. Iya, semoga kesadaran mereka muncul dengan kejadian ini. Terima kasih sudah mampir yaaa.. Salam kenal mba.

      Delete
  2. percaya atau ngga, gue banyak melihat penyebab kebakaran terbanyak adalah dari para petani lokal yang mencoba menghilangkan ilalang dengan cara membakarnya, dan biasanya itu akan menjalar ke hutan-hutan di sekitarnya
    ini uda jadi himbauan polda di ponti tahun ini, tapi tetap saja mereka membandel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa??? Mungkin di Pontianak begitu, tapi di kota lainnya?? Tapi bisa juga kan "mereka" itu sengaja membayar para petaninya?? Jadi lahan petani tetep ada dan "mereka" juga bisa merambah lahan baru tanpa perlu repot (atau ketauan)... *sotoy...

      Delete
  3. yang lebih ironis, pemerintah daerah di sana kurang responsif
    padahal, di media udah ramai, tapi mereka ya begitu...

    harusnya ada hukuman tegas untuk pelaku, terutama oknum pejabat
    biar ada efek jera
    miris juga waktu teman saya di jambi cerita, sekolah anaknya diliburin gara2 asap yang ga kunjung reda...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemerintah daerah mungkin gatau mau bertindak apa... Ini semua kan krn kepentingan, kepentinggal org2 "besar" ja mungkin yg kecil2 kecipratan jg mas.. hihihihi...

      Iya, yg paling kasihan itu anak2nya.. Apalagi ada yg bayi, hrs cpt2 diungsikan. Jambi masih parah. Sangat parah. Well we'll see bagaimana proses hukum yang berjalan di Indonesia tercinta ini......

      Kalau kemudian mengecewakan, ya gak heran lg...

      Delete
  4. Ya ampun van.. saudara-saudara aku di Sumsel udah kaya orang-orang dari ketinggian gunung lhoo.. tiap hari pakai mask, penutup baju dan kepala.. karena debu asaap dimana-mana..
    Setahu aku dulu tinggal di Sumsel, kejadian asap ini sering terjadi setiap tahunnya.. korban yang terkena ISPA pasti ada setiap tahunnya karena ASAP.. cuma tahun ini emang ganas banget.. ini mah namanya termasuk Polusi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa mba. Lbh aman memang mereka pake begitu.. Memang ak jg denger kejadian ini tiap tahun, biasanya krn kemarau ini. Tp untuk kali ini memang keterlaluan.

      Mudah2an mereka sadar (even kemungkinannya hanya 0. 001 % mudah2an ada peringatan lah ke mereka biar tobat.

      Delete
  5. aku jadi sedih dan gak tau mau ngomong apa :(
    cuma doa... selalu ... doa..
    percaya sama kekuatan sebuah doa .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Speechless ya mba Zilqiah...
      Emang cuma doa yg bisa kt lakukan. Semoga keadaan membaik.

      Kita butuh hujan.. hiks.. /(__,__)"

      Delete
  6. Semoga segera turun hujan.
    Kita jangan jadi pembakar selanjutnya ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin mas Nugroho. Kita ngga akan jadi pembakar mas, soalnya kita masih "waras" hihihii.. Terima kasih sudah mampir mas..

      Delete
  7. ini memang menyedihkan banget. Sudah bertahun-tahun selalu berulang kejadiannya. Kasihan masyarakat di sana. Kasihan para petugas yang sudah terjun langsung. Kapan ya para pelaku tersebut mendapatkan ganjaran. Karena kejadian ini kan sebetulnya bukan bencana alam. Tapi ada ulah tangan manusia yang memicunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Keke, menyedihkan.. Terus - terusan begini.. Hahahahha, selama oknum - oknum berkuasa masih serakah, akan susah nampaknya... Iya betul. Ini dibakar memang sama manusia, yang di Kalimantan malah ceritanya masyarakat yang membakar (menurut cerita dari teman yang kerja disana) tapi entahlah, aku rasa mereka melakukan itu juga karena disuruh.. Huuhhuu..

      Terima kasih sudah mampir ya mba Keke. Salam kenal.

      Delete
  8. Selalu miris ketika mengetahui kebakaran hutan disebabkan oleh segelintir oknum yang ga bertanggung jawab :(
    Temen saya juga yang tinggal di palangkaraya keadaannya sama parahnya sampai sekolah pun libur katanya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Nur, kadang masyarakatnya juga membakar lahan.. tapi ya jadi kebablesan.. hehehhee.. Iyaaa ya.. hoalah, kasihanlah anak - anak itu jadi ikuta ngga bisa sekolah juga.. Udh terlalu lama liburnya, nanti jadi pada malas kesekolah.. hikssss...

      Delete

Terima kasih sudah mampir, silahkan tinggalkan pesan atau pertanyaan. Have a good day *\(^o^)/*

You May Also Like