Saturday, May 17, 2014

HOLIDAY : Paskah Raya 2014 - Tarutung, Sumatera Utara


Berhubungan dengan perayaan Paskah (merayakan hari kebangkitan dari Yesus Kristus setelah Ia mati di kayu salib. Paskah merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus, seperti yang tercatat di dalam keempat Injil di Perjanjian Baru. Perayaan ini juga dinamakan Minggu PaskahHari Kebangkitan, atau Minggu Kebangkitan) setiap tahunnya.


Hari 1
Kamis, 17 April 2014

Berkumpul di Bandara Soekarno Hatta pukul 03.30, seluruh peserta dan panitia, lalu absen, bagi - bagi kue, boarding.... Perjalan menuju Bandara Kuala Namo, Sumater Utara.. Lalu kemudian dilanjutkan perjalanan ke kota Tarutung tempat akan digelarnya acara Paskah Raya 2014.

Perjalanan Kuala Namo ke Tarutung memakan waktu 8 jam (non stop) melewati Perbaungan - Pematang Siantar - Parapat - Porsea - Balige - Sipaholon - Tarutung. Sampai ke Hotel Safari sudah larut malam, lalu peserta langsung istirahat.

Kota Tarutung adalah kota kecamatan yang merupakan ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Kota Tarutung merupakan Kecamatan yang memiliki luas wilayah terkecil di Kabupaten Tapanuli Utara tetapi memiliki kepadatan tertinggi di Kabupaen Tapanuli Utara. Tarutung juga dikenal sebagai kota wisata rohani di mana di kota tersebut berdiri bangunan salib megah yang dinamai Salib Kasih. Bangunan tersebut didirikan untuk mengenang peristiwa penyebaran agama Kristen di tanah Batak yang dirintis oleh Misionaris asal Jerman, yaitu DR. I.L. Nommensen. sumber : Wikipedia


Hari 2
Jumat, 18 April 2014

Pagi yang indah untuk memulai hari, dibangunkan dengan lagu - lagu rohani yang diputar dari kantor Bupati (setiap pagi ada lagu - lagu rohani yang diputar dr kantor Bupati, speakernya menghadap ke kota Tarutung dan semua orang bisa mendengarnya). Lalu peserta dan panitia bersiap - siap untuk beribadah Jumat Agung di HKBP Pearaja, yang adalah pusatnya Gereja HKBP di seluruh dunia.


Masih pagiiiii, hanya beberapa becak berseliweran. Ibu - ibu lagi pada ke salon, sebagian masih siap - siap, dan ada yang sarapan.



Semua tanaman ini bisa tumbuh subur disana karena udaranya yang dingin. Pengen ku bawa pulang rasanya.


HKBP PEARAJA - TARUTUNG
(29 Mei 1864)
Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) adalah gereja Protestan terbesar di kalangan masyarakat Batak, bahkan juga diantara Gereja Protestan yang ada di Indinesia, dan menjadikannya pula organisasi keagamaan terbesar ketiga setelah NU dan Muhammadiyah. Gereja ini tumbuh dari misi RMG (Rheinische Missionsgesellschaft) dari Jerman dan resmi berdiri pada 7 Oktober 1861. Saat ini, HKBP memiliki jemaat sekitar 4.5 juta anggota di seluruh Indonesia. HKBP juga mempunyai beberapa gereja di luar negeri, seperti di Singapura, Kuala Lumpur, Los Angeles, New York, Seattle dan di negara bagian Colorado. Meski memakai nama Batak, HKBP juga terbuka bagi suku bangsa lainnya.  
Sejak pertama kali berdiri, HKBP berkantor pusat di Pearaja (Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) yang berjarak sekitar 1 km dari pusat kota Tarutung, ibu kota kabupaten tersebut. Pearaja merupakan sebuah desa yang terletak di sepanjang jalan menuju kota Sibolga (ibu kota Kabupaten Tapanuli Tengah). Kompleks perkantoran HKBP, pusat administrasi organisasi HKBP, berada dalam area lebih kurang 20 hektare. Di kompleks ini juga Ephorus (=uskup) sebagai pimpinan tertinggi HKBP berkantor. Sumber : Wikipedia


Sebelum kebaktian pose - pose dikit lahh yaaahh hahahhahah..



Buku acara untuk rombongan kami. I made this hahahhaahha

Setelah kebaktian lalu rombongan dan jemaat disiapkan makan siang (keren banget kayak gini di Jakarta ngga giniii hahahahha), karena ibadah hari ini tuh seharian nonstop. So excited, karena di Jakarta ngga begini. Lalu Paduan Suara Apostel dari HKBP Sudirman menyanyikan beberapa lagu pujian, kemudian kira - kira jam 14.00 jemaat kembali masuk ke dalam gereja untuk melakukan perjamuan kudus.


Paduan Suara Apostel HKBP Sudirman Jakarta


"Sai burju ma ho rasirasa mate"
Hendaklah engkau selalu berbuat dan bersikap baik sampai akhir hayatmu


Seluruh kebaktian dipimpin oleh Ephorus Pdt. WTP. Simarmata, MA (kiri) yang merupakan pemimpin tertinggi dalam susunan organisasi Gereja HKBP

Rasanya beda perjamuan kudus di kampung, lebih sedihhhh dan terharu. Gereja itu adalah gereja dimana opungku (kakek/nenek) datang setiap minggunya. Tapi sayang belum sempat aku ketemu mereka, eh mereka udh meninggal duluan huhuhuhuhu. Yang khas di gereja - gereja di kampung adalah loncengnya. Yang dibunyikan pada saat - saat tertentu, seperti kebaktian, Jumat Agung, dan pada saat ada jemaat yang meninggal dunia. Dulu waktu kecil papa suka ditugaskan untuk membunyikan lonceng gereja ini, ahhhhhhhh rasanya makin sedihhhhhhhhh. Duduk di dalam gereja kenangan keluarga besarku dulu.


Hari 3
19 April 2014

Pagi ini kami sarapan di rumah Ephorus Pdt. WTP. Simarmata, MA yang kemudian dilanjutkan dengan bincang - bincang dengan Ephorus tentang Tarutung, pelayanan, musik, politik, dll. Ephorus menjawab semua pertanyaan peserta dengan baik.


Disebelahku ini adalah istri Ephorus hiihihihhi, inang (ibu) ini orangnya ramah dan sederhana. Love her.

Sebagai penutupnya, rombongan menyerahkan bantuan berupa dana sebesar Rp. 500.000,- untuk membantu pembangunan gedung rapat yang sedang dibangun di sebelah kediaman Ephorus. Gedung ini nantinya digunakan sebagai ruang rapat kegiatan baik untuk HKBP Pusat, maupun jika ada kegiatan rapat pendeta HKBP di seluruh dunia.


Penyerahan bantuan secara simbolis dari panitia



Minta waktunya sedikit untuk foto - foto ya amang, inang hihihihi


Seusai acara diskusi, lalu kami bersama rombongan naik ke Salib Kasih, tidak banyak foto yang diambil karena hujan hihihiiii. Ya sudahlah, dengan terpaksa ngga ditampilkan disini huhuhu.

Lalu, menjelang sore kami kembali berkumpul di Pearaja, kali ini kan bersama - sama berjalan mengelilingi kota Tarutung dengan membawa obor (pawai obor), dipimpin oleh Ephorus beserta jajarannya dan beberapa perwakilan pendeta dari berbagai tempat kami mulai berjalan dari Pearaja menyusuri kampung - kampung (termasuk kampungku) yang ada di Tarutung. Mungkin sekitar 10 - 20 kilometer total perjalanan zzzzzzz. Aku sudah tepar mungkin di 3 km pertama hahahhahahahhahahha (saya lemah hhahahahah).


Ephorus didampingi pendeta - pendeta dan diikuti oleh ribuan jemaat HKBP (YES! Ribuan), 
baik tua maupun muda.



Aku ngga mau bawa obor, takutttt euy hahhahahhahha (takut kebakaran *sigh). Tapi demi foto yaaa sedikit pose boleh lah yahhh (padahal api obornya juga sekecil jempol bzzzz).



Hamparan sawah yang kami lewati



Yaaaa, maklum lah yahhh. Kaki ngga pernah dibawa jalan jauhhhh bawaanya mau patah hahahhaha. Duduklah diriku di pinggir sawah menunggu bantuannnn (nunggu mobil panitia datang untuk mengevakuasi hahahhahahahaaaa). Nah, pas lagi duduk - duduk, ada makhluk cantik putih bintik - bintik itu (motretnya ngga pake kamera mahal, kagak! cuma hape)



Rombongan yang pada senengggg banget difoto



Rombongan yang berhasil sampai larut malam.
Sementara aku udah ngantri makan di restoran hahahahhahah


Hari 4

20 April 2014


Hari minggu kami bersama - sama beribadah Minggu Paskah di Gelanggang Olahraga kota Tarutung, kegiatan ini diikuti lebih dari 10.000 orang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. Kebaktian berjalan dengan tertib sampai dengan pukul 15.00 WIB *busettttttttt lama amat yakhhhhhhhh zzzzzzzz.



Prosesi masuk diiringi oleh remaja - remaja yang menari Tor - tor


Hari 5
21 April 2014


Hari senin adalah hari terakhir kami di kota Tarututng. Setelah sarapan pagi rombongan akan menuju ke kota Medan, tapi sebelumnya kami akan mengunjungi beberapa tempat wisata.

a. Museum T.B Silalahi Center

Tiopan Bernhard Silalahi (lahir di Pematangsiantar, 17 April 1938; umur 76 tahun) adalah mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara pada Kabinet Pembangunan VI. Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1961 ini memiliki jabatan terakhir di militer adalah Asisten I Kasad dengan pangkat Mayor Jenderal, tahun 1988. Selanjutnya dikaryakan sebagai Sekjen Departemen Pertambangan dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (1993-1998).

Museum Pribadi TB. Silalahi atau yang diberi nama Museum Jejak Langkah dan Sejarah TB. Silalahi yang dibangun sebagai wadah untuk memotivasi generasi muda untuk terus meraih cita - cita dengan melihat pengalaman TB. Silalahi mulai dari kecil sebagai anak pengembala kerbau sampai menjadi seorang Jenderal. 

Museum TB. Silalahi adalah yayasan nirlaba yang didirikan oleh Letjen TNI (Purn) Dr. Tiopan Bernhard Silalahi. Yayasan ini didirikan dengan tujuan untuk melestarikan budaya Batak dan membentuk karakter masyarakat Batak. *sumber : Wikipedia



Dasar ya ngga bisa liat kamera



Salah satu koleksi Ulos Sadum (kiri) dan motif Gorga (kanan)



Ini adalah sirkam (hiasan rambut) yang digunakan orang - orang jaman dulu



Model anting - anting jaman dulu, terbuat dari emas



Pemandangan di sekeliling museum


b. Makam I.L Nommensen

Ludwig Ingwer Nommensen (di daerah Batak dikenal sebagai Ingwer Ludwig Nommensen atau I.L. Nommensen; lahir di Nordstrand, Denmark (kini Jerman), 6 Februari 1834 – meninggal di Sigumpar, Toba Samosir, 23 Mei 1918 pada umur 84 tahun) adalah seorang penyebar agama Kristen Protestan di antara suku Batak, Sumatera Utara yang berasal dari Jerman, tetapi lebih dikenal di Indonesia. Hasil dari pekerjaannya ialah berdirinya sebuah gereja terbesar di tengah - tengah suku bangsa Batak Toba yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). *sumber : Wikipedia

Nommensen ini adalah satu - satunya orang asing yang bisa masuk dan diterima oleh orang Batak pada masa itu. Dua orang misionaris sebelumnya tewas dibunuh dan dimakan oleh orang Batak. Pada masa itu orang Batak memang masih memakan sesama manusia (kanibal), bisanya mereka memakan orang yang dianggap musuhnya. Serem yaaaa. Nommensen melakukan pendekatan melalui bahasa, sebelum masuk ke tanah Batak, Nommensen mempelajari dulu bahasa Batak dan tradisi Batak.

Nommensen bertahan sampai akhir hayatnya di tanah Batak, sampai sekarang Nommensen terkenal sebagai "Bapak Orang Batak". Dan ada kata - kata Nommensen yang sempat diutarakan dalam doanya kepada Tuhan, yang tentunya tidak akan pernah bisa dilupakan oleh bangsa Batak.

"Hidup atau mati, biarlah aku tinggal di tengah - tengah bangsa ini untuk menyebarkan firman dan kerajaanmu".



Nommensen dimakamkan disini beserta istri, anak, rekan - rekan, dan juga anjing kesayangannya



Langit dan awan yang menyambut kami siang itu


c. Danau Toba - Pulau Samosir - Tomok

Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. 
Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara selain Bukit Lawang, Berastagidan Nias, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. *sumber : Wikipedia


Perjalanan menuju Pulau Samosir harus naik kapal, menyebrangi Danau Toba kurang lebih 30 menit



Kalau mau belanja di Tomok, harus pinter nawar. Kain - kain yang kami pegang dihargai Rp. 100.000,- sementara di toko lain jual Rp. 150.000,- (kain tenun khas Samosir yang ditenun dengan tangan oleh pengerajin disana) *muka capek, no makeup dan gendut hahahaha.



Pemandangan Danau Toba


d. Batu Gantung

Legenda Batu Gantung yang aku pernah dengar adalah ketika seorang anak gadis mau bunuh diri karena dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya yang dia tidak suka. Saat dia bunuh diri, anjing kesayangannya ikut bersama dengan dia. Tapi kalau dari cerita yang beredar di internet, tidak diceritakan bahwa anjingnya pun ikut lompat bersamanya.

Jadi kebenarannya yang mana juga agak membingungkan, intinya adalah batu itu seperti adalah seorang gadis yang pernah hidup jaman dahulu, lalu bunuh diri karena depresi dijodohkan orang tuanya.


(kiri) dari jauh (kanan) kalau dilihat dengan seksama, batu yang tergantung itu yang disebut batu gantung, bentuknya menyerupai manusia. Dan bongkahan kecil di sebelah kirinya itu disebut sebagai anjingnya.



Pose lagi lah yaaaa sebelun turun dari kapal hhahahahhha



Pemandangan Danau Toba saat rombongan menuju ke kota Medan


Kemudian rombongan kembali ke bis, menuju kota Medan. Sebelumnya singgah sejenak di kota Pematang Siantar untuk makan malam. Sampai di kota Medan pukul 00.30, rombongan langsung masuk kamar masing - masing dan kemudian beristirahat.


Hari ke 6
22 April 2014

Sarapan pagi di Hotel, lalu kemudian beres - beres, beli oleh - oleh Bolu Meranti, bika ambon, dll. Lalu berkumpul sambil makan siang di restoran Simpang Raya Jl. Putri Hijau (makanan disini enak deh), sedikit sharing tentang pengalaman selama kegiatan Paskah Raya bersama panitia. Lalu kemudian lanjut perjalanan menuju ke Bandara International Kuala Namo dan kemudian pulang ke Jakarta dan beristirahat di rumah masing - masing.

Peserta menunggu tahun depan untuk kembali beribadah dan berwisata bersama ke Tarutung dan sekitarnyaaa. Ditunggu cerita tahun depann yaaa (kalau ikut lagi) ahahahhahhaha (eh taunya ngga ikut lagi, jadi tunggu cerita tahun - tahun yang akan datang ya).

God bless you



4 comments:

  1. gue belum pernah liat batu gantung sebelumnya baik di internet ataupun langsung, skerang jadi tau deh, anw sumbangan kalian 500 juta yah, bukan 500 ribu :D cukup mengesankan jg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nahhh,, sekarang kan udah liat... Yowes, tahun depan planingnya pulang kampung ajaaaaa.. Udah dulu keliling dunianya.. hihihihihiiiii... Sumbangan itu mewakili Distrik DKI kok, jadi bkn hanya dari Sudirman. Dan peserta juga ada dari gereja HKBP lainnya kok...

      Delete
  2. Salam kenal ito. Tulisan mu membangkinkan kenangan akan Tarutung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. HORAS. Salam kenal juga ito, terima kasih sudah mampir ya. Ayok berkunjung ke Tarutung lagi hihihihi. Jangan lupa beli ulos sama cabe *loh hihihihi.

      Delete

Terima kasih sudah mampir, silahkan tinggalkan pesan atau pertanyaan. Have a good day *\(^o^)/*

You May Also Like